Prinsip-prinsip untuk upaya pelestarian alam yang inklusif

Delapan prinsip untuk upaya pelestarian alam yang inklusif dimaksudkan untuk memberikan kerangka acuan guna membantu pemerintah, donor, organisasi non-pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung serta memperluas tindakan transformatif untuk melestarikan, memulihkan, serta memanfaatkan dan mengelola keanekaragaman hayati global secara berkelanjutan.

collection badge

Mitra

Berbagai organisasi turut berperan dalam menyusun prinsip-prinsip ini

Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka acuan untuk memastikan bahwa kebijakan dan tindakan terkait keanekaragaman hayati benar-benar inklusif dan efektif

Mrinalini Rai's picture

Mrinalini Rai
pendiri dan direktur, Women4Biodiversity

Hubungi Kami

 Kami menerima masukan mengenai prinsip-prinsip upaya pelestarian alam yang inklusif ini dan kami sangat ingin mendengar bagaimana Anda menerapkannya dalam pekerjaan Anda.

Untuk menyampaikan pendapat Anda, mencari tahu lebih lanjut, atau ikut serta, silakan hubungi: Dilys Roe ([email protected]), peneliti utama di IIED

Delapan prinsip untuk upaya pelestarian alam yang inklusif ini dimaksudkan untuk memberikan kerangka acuan guna membantu pemerintah, donor, organisasi non-pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung serta memperluas tindakan transformatif untuk melestarikan, memulihkan, serta memanfaatkan dan mengelola keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dengan cara yang dipimpin oleh masyarakat setempat, responsif terhadap gender, dan inklusif terhadap beragam pemegang hak.

Hal ini mencakup perempuan, kaum muda, anak-anak, penyandang disabilitas, pengungsi, Masyarakat Adat dan masyarakat setempat, masyarakat keturunan Afrika, serta kelompok etnis lainnya. Kelompok-kelompok ini sering kali berada di garis depan dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi justru paling kurang diberdayakan untuk melakukan perubahan akibat hambatan sistemik dan diskriminasi.

Bukti menunjukkan bahwa pendekatan-pendekatan ini, pada akhirnya, lebih efektif bagi keanekaragaman hayati sekaligus lebih adil secara sosial.

Latar Belakang

Prinsip-prinsip ini disusun dalam konferensi Wilton Park bertajuk “Perubahan transformatif bagi keanekaragaman hayati global: peran kesetaraan gender dan inklusi sosial” yang diselenggarakan oleh Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan Britania Raya pada bulan September 2024.

Prinsip-prinsip tersebut mengacu pada prinsip-prinsip adaptasi yang dipimpin oleh masyarakat setempat dan pada Prinsip-prinsip Shandia (PDF), yang dikembangkan oleh Aliansi Global Komunitas Wilayah, serta hasil pembahasan selama konferensi tersebut berlangsung. Prinsip-prinsip ini juga sejalan dengan Rencana Aksi Gender Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (PDF).

Faith Muniale, Amelia Arreguin Prado, dan Jennifer Tauli Corpuz membahas peran perempuan, anak perempuan, dan kelompok-kelompok terpinggirkan dalam konservasi keanekaragaman hayati pada konferensi Wilton Park tahun 2024

“Prinsip-prinsip ini mendorong kita untuk memikirkan kembali cara kita mendanai, merancang, dan mewujudkan solusi terkait iklim dan keanekaragaman hayati,” kata Menteri Urusan Alam Britania Raya (UK Minister for Nature), Mary Creagh, saat berbicara di NYC Climate Week pada bulan September 2025.

“Prinsip-prinsip ini juga menyerukan perubahan struktural–seperti menjamin hak atas tanah, memperkuat kepemimpinan lokal, dan mengintegrasikan pengetahuan Masyarakat Adat ke dalam kebijakan dan praktik.” “Prinsip-prinsip ini juga menyerukan kepada kami sebagai pemberi dana agar lebih fleksibel, sabar, dan mampu beradaptasi, serta yang paling penting, agar kita semua memastikan bahwa hak dan keselamatan para pembela lingkungan – yang sering kali merupakan Masyarakat Adat dan masyarakat setempat, serta sering kali perempuan – terlindungi.”